Pada tanggal 20 Agustus 2020, Mahasiswa Pencinta Alam Geografi Gadjah Mada atau yang dikenal sebagai GEGAMA merayakan hari jadinya yang ke-38. Puncak dari peringatan ini sebenarnya dirayakan pada malam 19 Agustus 2020, dikarenakan pada malam tersebut merupakan waktu tutup tahun bagi GEGAMA. Perayaan Dies Natalis XXXVIII GEGAMA kali ini berbeda dari perayaan-perayaan sebelumnya, hal ini disebabkan oleh adanya pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia termasuk Indonesia. Salah satu pengaruh yang cukup besar dari adanya pandemi adalah diterapkannya pembatasan sosial diantara masyarakat, sehingga suatu kegiatan yang menyebabkan berkumpulnya massa dalam jumlah besar tentunya menjadi terhambat atau bahkan tidak dianjurkan. Oleh karena itu, GEGAMA pun turut beradaptasi dalam mematuhi himbauan tersebut, diantaranya yakni sebagian besar rangkaian kegiatan dies natalis sengaja dibuat secara daring, sedangkan untuk kegiatan yang masih dilakukan secara luring tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada.
Virus merupakan sebuah benda mati tak kasat mata yang sangat berbahaya. Secara diam-diam, virus bisa menjadi penyebab kematian. Dalam catatan sejarah, sudah ratusan juta orang mati karenanya.

Virus sulit sekali terdeteksi. Karena itu, sangat sulit untuk melawannya. Yang bisa kita lihat hanyalah efeknya. Penyebarannya, gejalanya, dan kematian yang diakibatkannya
Bagaimana bisa kita berkutik atau bertindak, terhadap sesuatu yang tidak bisa kita lihat? Sesuatu yang bahkan tidak kita ketahui keberadaannya? Orang-orang di masa lalu, bahkan seringkali menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Menganggapnya sebagai sebuah sihir, sebuah hal yang ajaib.
Hari Senin pagi 29 Oktober 2018, kita dikejutkan dengan jatuhnya pesawat Lion Air JT610. Pesawat Boeing yang relatif masih baru, jatuh di Laut Karawang, Jawa Barat. Seluruh penumpang dan awak pesawat, dengan total 186 orang, 1 anak-anak dan 2 bayi dipastikan meninggal dunia. Harapan keluarga korban adalah ditemukannya jasad anggota keluarga mereka, untuk dapat dibawa pulang dan dikebumikan.
Pencarian sisa bangkai pesawat langsung dilakukan oleh Basarnas dengan dukungan berbagai pihak di antaranya TNI AL, Hidros, BPPT, Pertamina, nelayan dan pihak-pihak lain. Kapal dengan berbagai peralatan canggih diterjunkan untuk mencari bangkai pesawat, karena diperkirakan masih banyak korban yang terjebak didalamnya. Selain itu penemuan black box sangat diharapkan untuk keperluan investigasi yang menyebabkan jatuhnya pesawat.
Yogyakarta merupakan daerah yang berada di bagian selatan dari wilayah Indonesia. Daerah ini umumnya memiliki suhu udara normal pada kisaran 27-29⁰ C. Namun, pada Kamis 26/7/2018 Yogyakarta mengalami suhu yang dirasa sangat dingin. Suhu udara di sebagian wilayah Yogyakarta pada saat itu mencapai 18⁰ C pada pukul 05.00 WIB. Perbedaan suhu yang sangat fluktuatif tersebut dibanding suhu normal tentu bukan tanpa alasan. Penyebab dari turunnya suhu di Yogyakarta juga terjadi pada daerah lain di bagian selatan Indonesia apabila dilihat letak geografisnya.
Kegiatan di luar ruangan tidak pernah lepas dengan yang namanya perjalanan. Interval perjalanan yang relatif lama denganmedan yang cukup berat tentu memaksa kita untuk melengkapi diri dengan peralatan yang memadai. Salah satu peralatan yang paling dibutuhkan selama perjalanan adalah sepatu. Pembungkus kaki yang selalu menemani perjalanan kita ini setidaknya dapat memenuhi nilai fungsional tanpa mengesampingkan nilai estetikanya. Memilih sepatu tanpa mempunyai pertimbangan yang matangakan berakibat pada beberapa hal yang mengganggu, yaitu ketidaksesuaian antara sepatu dengan medan yang dihadapi, perjalanan yang tidak nyaman, atau yang paling parah adalah cidera. Berikut beberapa tips memilih sepatu sebagai teman perjalanan di lapangan:
Argopuro, merupakan salah satu gunung yang mempunyai jalur pendakian terpanjang yang pernah kami lalui. Gunung dengan total waktu pendakian kurang lebih lima hari empat malam ini berhasil membuat kami menjadi manusia yang benar-benar mensyukuri banyak hal. Bukan hanya dari eloknya pemandangan yang disuguhkan di setiap jalur perjalanan, namun juga adanya bahaya yang mengancam dari arah yang tak terduga-duga. Petualangan berbasis pendakian yang dilakukan oleh 13 orang perwakilan Mapala Gegama pun dimulai.
Jumat sore, tertanggal 19 Juni 2018. Saat itu aku dan beberapa teman yang juga merupakan Mapala GEGAMA berangkat menuju Pantai Siung. Bukan sekedar beachcamp, di pantai tersebut kami akan melakukan kegiatan operasional pendidikan lanjut panjat. Walaupun aku sendiri bukan anggota divisi panjat tebing akan tetapi untuk operasional bertema “dolan”, apasih yang enggak? Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari 2 malam sehingga kami akan kembali lagi dari Pantai beserta Tebing Siung menuju Fakultas Geografi pada hari Minggu siang.
Tiga puluh enam tahun sudah GEGAMA (Unit Kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam Fakultas Geografi) berdiri. Dies Natalis XXXVI GEGAMA diketuai oleh Wisnuaril Khoirul Lukman alias Pring GGM 33.338. Acara tahun ini mengangkat tema “WGS 36”, yang memiliki kepanjangan Wangun, Guyub, dan Srawung, serta 36 yang menandakan umur GEGAMA saat ini. Terdapat berbagai macam rangkaian kegiatan Dies Natalis XXXVI GEGAMA, mulai dari kegiatan lapangan yaitu pengibaran bendera hingga aksi sosial. Pengibaran bendera GEGAMA dilakukan oleh empat divisi operasional di GEGAMA, di empat tempat yang berbeda pula. Divisi caving atau penelusuran gua melakukan pengibaran bendera di Gua Anjani bersamaan dengan divisi panjat yang melakukan pengibaran bendera di Jalur Pancasila, Tebing Parangdong. Selain itu, pada divisi gunung hutan pengibaran bendera dilakukan di Gunung Sumbing yang merupakan puncak kedua tertinggi di Jawa Tengah. Serta divisi rafting yang melakukan pengibaran bendera di Sungai Elo.
Bulan Juli lalu, tepatnya tanggal 25 – 29 Juli 2018 anggota GEGAMA melakukan kegiatan Pemantapan Materi Dasar Yang kemudian disingkat menjadi MATRAS. Kegiatan MATRAS diikuti oleh empat divisi yang ada di GEGAMA yaitu Divisi Gunung Hutan, Divisi Arung Jeram, Divisi Panjat, dan Divisi Penelusuran Gua. Keempat divisi tersebut melaksanakan kegiatan MATRAS di tempat yang berbeda-beda. Tujuan dilakukannya Pemantapan Materi Dasar adalah untuk meningkatkan kegiatan operasional dan manajemen Kegiatan operasional didapatkan dengan memperdalam materi-materi dasar sementara kegiatan manjemen diperoleh dari persiapan pra, saat, dan pasca lapangan. Kegiatan MATRAS ini merupakan kegiatan operasional yang wajib diikuti oleh Wiramuda dan dilakukan untuk menyampaikan materi dasar dan mengenalkan materi lanjut pada masing-masing divisi.
Waduk Rawa Jombor merupakan sebuah rawa alami yang terletak di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Waduk ini memiliki luas 198 ha yang difungsikan sebagai lahan budi daya perikanan oleh masyarakat sekitar dan sebagai penampungan air untuk mengairi sawah mereka. Waduk Rawa Jombor ini memiliki daya tarik sebagai wisata alam terutama bagi penggemar fotografi. Memotret saat pagi hari di Rawa Jombor adalah waktu yang tepat karena dapat memotret sunrise (matahari terbit) dan human interest (aktivitas manusia) disekitar waduk.