Environment FUN FACT Geographical

Memetakan Virus: Sebuah Pelajaran dari Pandemi

Virus merupakan sebuah benda mati tak kasat mata yang sangat berbahaya. Secara diam-diam, virus bisa menjadi penyebab kematian. Dalam catatan sejarah, sudah ratusan juta orang mati karenanya.

Sumber: Wiki

Virus sulit sekali terdeteksi. Karena itu, sangat sulit untuk melawannya. Yang bisa kita lihat hanyalah efeknya. Penyebarannya, gejalanya, dan kematian yang diakibatkannya

Bagaimana bisa kita berkutik atau bertindak, terhadap sesuatu yang tidak bisa kita lihat? Sesuatu yang bahkan tidak kita ketahui keberadaannya? Orang-orang di masa lalu, bahkan seringkali menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Menganggapnya sebagai sebuah sihir, sebuah hal yang ajaib.

Namun sebenarnya, ada suatu cara agar kita bisa melihat benda tak kasat mata ini. Untuk melihat apa yang sedang terjadi, apa efek yang sedang dia sebabkan, dan bagaimana dia menyebar. Semua itu bisa kita lihat dengan memanfaatkan analisis data. Dan cara terbaik dalam menampilkan data, adalah dengan memetakannya.

Dalam catatan sejarah, pemetaan untuk melawan pembunuh tak kasat mata pertama kali dilakukan pada tahun 1854. Pada saat itu, di Broad Street, London terjadi sebuah kejadian yang luar biasa. Banyak sekali orang meninggal akibat suatu penyakit yang tidak dimengerti oleh siapapun.

Berbagai teori bermunculan. Dari yang ilmiah hingga yang mistis. Dari yang masuk akal, hingga yang tidak masuk akal. Dari penyebaran lewat udara, hingga oleh penyihir.

Namun di antara teori-teori tersebut, tidak ada satupun yang benar. Sehingga, justru menghasilkan saran-saran kesehatan yang tidak akurat, dan cenderung misleading.
Orang-orang tetap terkena penyakit itu, dan akhirnya mati.

Hingga suatu ketika, muncul seseorang bernama John Snow. Idenya pada saat itu bisa dibilang cukup sederhana. Jika kita mampu mencari semua orang yang terkena penyakit, lalu menanyakan mereka apa yang mereka lakukan sebelumnya, apa yang mereka makan, apa yang mereka minum, apa yang mereka sentuh, tempat mana saja yang mereka kunjungi, maka kita bisa memetakan penyakit ini, yang kemudian bisa membantu kita untuk melihatnya, dan memahaminya lebih dalam.

John Snow

John Snow

Pada masa itu, pengumpulan data dan pemetaan belum menjadi sebuah metode yang biasa digunakan oleh para praktisi untuk mengerti suatu penyakit. Pada saat itu, orang-orang hebat di bidang kesehatan hanya bertindak sebagai dokter, yang memberikan saran-saran kesehatan kepada para pasien berdasarkan pengetahuan mereka. Ilmu kesehatan pada saat itu belum terlalu melibatkan data science.

Walaupun begitu, Jon Snow tetap gigih dalam mengumpulkan data sebanyak yang dia bisa. Setelah Jon Snow mengumpukan data-data yang dia dapat dari hasil survey terhadap para penyandang penyakit, dia memetakannya.

Peta yang dihasilkan sangat jelas memperlihatkan bahwa terdapat suatu hubungan antara persebaran penyandang penyakit ini dengan sebuah pompa air yang menjadi sumber dari air minum sehari-hari para penduduk. Usut punya usut, sumber air minum itu ternyata terkontaminasi kotoran manusia, yang membawa bakteri penyebab penyakit kolera. Dari situ, akhirnya diketahui bahwa penyakit tersebut menyebar melalui air minum. Bukan melalui udara, apalagi penyihir.

Dan sekarang, sekitar 150 tahun kemudian, kita dihadapkan dengan kondisi yang cukup mirip. Namun, sekarang kondisinya sudah jauh berbeda. Mobilitas manusia jauh lebih tinggi. Perjalanan antarkota, antarnegara, antarbenua, terjadi setiap harinya. Dan akibatnya, pembunuh tak kasat mata ini bisa menyebar ke seluruh dunia dalam sekejap.

John Snow pada saat itu hanya perlu mensurvei satu gang untuk memetakan penyakitnya. Namun saat ini tantangannya jauh lebih berat, karena yang perlu dipetakan bukan hanya sebuah jalan, bukan hanya sebuah kota, bukan hanya sebuah negara, tapi seluruh dunia.

Namun di balik itu semua, kita di zaman sekarang juga sudah memiliki teknologi pemetaan yang jauh lebih canggih, yang membuat kita bisa melakukan hal-hal yang tidak mungkin bisa untuk dilakukan pada tahun 1850an.

Sumber: The New York Times

The New York Times membuat sebuah visualisasi yang sangat bagus mengenai pola pergerakan manusia, menggunakan data yang dipublikasikan oleh perusahaan telekomunikasi asal Tiongkok. Peta ini menunjukkan bagaimana orang berpindah-pindah, dan bagaimana virus ini menyebar, keluar dari Tiongkok, dan tersebar ke seluruh dunia. Hingga hampir semua negara di dunia terkena dampaknya.

Sumber: endcoronavirus.org

Melawan virus Korona bukanlah suatu hal yang mudah. Meskipun demikiaan, di atara semua negara yang terdampak, terdapat beberapa negara yang terbilang cukup berhasil dalam melawan virus ini. Sebut saja Tiongkok, Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam. Ya, kebanyakan adalah negara-negara asia timur. Sedangkan negara-negara seperti Amerika, Russia, Argentina, Brazil, termasuk negara kita Indonesia, terbilang gagal dalam melawan virus ini. Apa yang membedakan negara-negara tersebut, dengan negara yang lain?

Well, bisa dibilang mereka melakukan pemetaan dengan baik. Sejak awal virus korona masuk ke Korea Selatan, mereka langsung melakukan tes secara masif, untuk bisa langsung melacak keberadaan virus ini. Sehingga berbagai upaya preventif bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran.

Sumber: NCBC News

Katakanlah kamu adalah salah satu orang yang dinyatakan positif terkena virus di Korea Selatan. Para petugas kesehatan akan mewawancaraimu, seperti yang dilakukan oleh John Snow. Kamu akan ditanyai mana saja tempat yang kamu kunjungi beberapa hari terakhir, benda apa saja yang kamu sentuh,siapa saja orang yang berkontak deenganmu, dan berbagai pertanyaan lainnya. Data hasil wawancara tersebut kemudian diverivikasi dengan data dari sinyal GPS, transaksi kartu kredit, dan gambar CCTV, untuk memetakan segala hal yang sudah kamu sentuh, semua orang yang kamu temui, semua transportasi umum yang kamu gunakan, segala hal yang terkontak denganmu, dan setiap hal yang memungkinkan virus tersebut berpindah dari dirimu ke orang lain.

Kemudian setiap orang yang pernah berkontak denganmu dan berkemungkinan tertular darimu juga diwawancari, dan diwajibkan untuk menjalani isolasi. Setiap orang yang berkontak dengannya pun juga demikian.
Ketika kamu sedang menjalani isolasi, kamu akan diwajibkan untuk menginstall sebuah aplikasi di handphonemu untuk mengetahui pergerakanmu, dan memastikan kamu tidak menularkannya lagi ke orang lain. Kalau kamu melanggar aturan isolasi, kamu akan terkena denda puluhan juta rupiah.

Sumber: Ariran News

Pemetaan ini sangat sulit untuk dilakukan. Perlu banyak sekali data yang dikumpulkan, banyak sekali orang yang diwawancara, banyak sekali data yang harus dianalisis. Tapi, itulah satu-satunya cara untuk memetakan virus ini, dan menghentikan penyebarannya, dan untuk melacak semua atau sebagian besar virus, usaha ini perlu dilakukan sejak awal sekali virus masuk ke negara kita. Hal ini masih mungkin dilakukan apabila jumlah orang yang terjangkit masih puluhan, atau ratusan. Kalau sudah ribuan, bisa dibilang hampir tidak mungkin.

Sayangnya, di negara kita usaha seperti ini bisa dibilang belum begitu serius dilakukan. Kasus virus korona pertama kali terdeteksi di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. Padahal, sebenarnya aku yakin jauh sebelum itu sudah ada yang terjangkit. Kita saja yang gagal mendeteksinya. Padahal, yang tidak terdeteksi ini jauh lebih berbahaya. Karena, tanpa kita ketahui dia menyebar, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tau keberadaannya aja nggak.

Sumber: Suara Jogja

Pada awal-awal virus ini menyebar ke seluruh dunia, pemerintah kita seakan meremehkan. Para pejabat kita seakan tidak sadar, bahwa bahaya besar sedang mengancam. Dan bisa dengan santai menanggapinya. Bahkan salah satu Menteri ada yang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia punya kekebalan tubuh untuk virus ini karena suka makan nasi kucing. Sekitar satu bulan kemudian, dia dinyatakan positif. Lelucon macam apa ini?

Namun selain Indonesia, banyak negara-negara lain yang juga bisa dibilang gagal dalam menanggulangi virus ini. Sebut saja Brazil, Russia, dan Amerika Serikat.
Negara sehebat Amerika Serikat sekalipun gagal. Bagaimana bisa?

Sumber: endcoronavirus.org

Amerika serikat sebagai sebuah negara yang mayoritas penduduknya menganut paham liberal, tidak suka dengan gagasan bahwa pemerintah bisa mengawasi mereka. Bagi sebagian besar orang-orang di Amerika Serikat, hal-hal seperti pelacakan GPS, pelacakan transaksi kartu kredit, pelacakan pergerakan, pelacakan kontak, dll itu dianggap sebagai sebuah privasi, yang bisa dibilang cukup sensitif, apalagi semenjak kasus Cambridge Analytica.

Pelacakan hanya bisa dilakukan apabila masyarakat cukup percaya dengan pemerintah. Kalau dibandingkan, di Korea Selatan, sekitar 86% penduduknya percaya pada saran-saran kesehatan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Sedangkan di Amerika Serikat, hanya sekitar 59%. Di Indonesia? Kamu bisa lihat sendiri

Sumber: Vox

Selain itu, negara-negara yang berhasil tersebut bisa dibilang sudah tau apa yang harus mereka lakukan karena sudah memiliki pengalaman dalam menangani wabah sebelumnya. Taiwan sempat diserang oleh wabah SARS pada tahun 2003, sedangkan Korea Selatan pernah diserang wabah MERS pada tahun 2015. Dari pengalaman tersebut, mereka tau cara untuk menangani wabah, sehingga lebih siap dalam menanganinya Sedangkan Indonesia, Amerika Serikat, dan Russia, belum memiliki pengalaman tersebut.

Dan menurut beberapa pakar, dengan keadaan ekologis yang sepperti ini,
Hutan yang dibabat, habitat yang hilang, akan membuat kontak aantara manusia dan hewan liar meningkat. Sehingga kemungkinan besar penyakit zoologis lain akan muncul, dan berpotensi menjadi pandemi yang lebih parah dari virus korona.

Maka, aku berharap kejadian ini bisa menjadi sebuah pengalaman berharga bagi kita, memberikan sebuah pelajaran. Supaya kedepannya kita bisa lebih siap dalam menangani hal semacam ini. (/Johan)

About the author

johan.h.p

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *