Adventure Blog GEGAMA

Menaklukkan Tebing Dieng dan Mengagumi Keindahan Panoramanya

Panjat Tebing merupakan salah satu divisi kegiatan kepencintaalaman yang ada di Mapala GEGAMA. Pada tanggal 30 September – 2 Oktober 2022, divisi Panjat Tebing GEGAMA melaksanakan kegiatan Pendidikan Lanjut (DIKJUT) 2 bagi Anggota DIKLATSAR XXXVIII GEGAMA. Kegiatan DIKJUT 2 ini dilaksanakan di Tebing Dieng, Kalurahan Jojogan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah. Pendidikan Lanjut (DIKJUT) 2 merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Anggota DIKLATSAR XXXVIII GEGAMA untuk meningkatkan kemampuan dalam panjat tebing dan dilaksanakan setelah rangkaian kegiatan Pemantapan Operasional (MATRAS).

Kegiatan DIKJUT 2 Panjat Tebing GEGAMA diikuti oleh sepuluh (10) orang anggota, yaitu Majiid (Gatheng), Wafiq (Sepa), Pudyastowo (Ligu), Naufal (Tulup), Stefani (Karih), Arfi (Pakur), Sistha (Kole), Gita (Lepa), Nurar (Timphan), dan Johan (Lawar). Pada kegiatan DIKJUT 2 ini, materi yang dipraktikkan adalah Jummaring dan Pemetaan Tebing. Teknik Jummaring menggunakan 1 jalur serta Pemetaan Tebing menggunakan 1 jalur.

Hari pertama kegiatan, teman-teman mempraktikkan materi JummaringJummaring merupakan salah satu teknik untuk melakukan ascending menggunakan satu tali. Ascending merupakan teknik vertikal untuk naik ke atas dalam suatu medan dengan menggunakan jalur atau lintasan berupa tali dan alat-alat tertentu. Jummaring sendiri juga merupakan salah satu metode dalam ilmu SRT atau Single-Rope Technique dimana penggunaan lintasan berupa satu tali. Sebelum melakukan Jummaring, perlu dilakukan rigging atau pembuatan pengaman di atas tebing. Setelah pengaman terpasang, kemudian jalur dibuat dengan menurunkan tali secara perlahan agar tidak terjadi friksi. Tali yang digunakan adalah tali berjenis statis.

Sebelum melakukan Jummaring, perlu melakukan set alat terlebih dahulu, melakukan checking kelengkapan alat, serta checking safety tiap alat. Alat naik yang digunakan pada teknik Jummaring ialah Jummar itu sendiri dan berjumlah dua untuk kanan dan kiri. Jummar terhubung pada harness menggunakan cowstail. Cowstail ini perlu dibuat dengan menyesuaikan preferensi panjang masing-masing orang agar tidak terlalu panjang atau terlalu pendek. Cowstail yang terlalu panjang dapat berakibat Jummar Bay atau kondisi dimana Jummar sulit diraih oleh pemanjat sehingga mengganggu proses Jummaring. Sedangkan cowstail yang terlalu pendek membuat proses Jummaring tidak nyaman dan kurang efektif sehingga terlalu banyak membuang tenaga. Jummar tadi juga terhubung dengan footloop dimana footloop ini berfungsi untuk menjadi pijakan kaki ketika naik.

Setelah berhasil naik atau melakukan ascending, pemanjat perlu melakukan descending atau teknik vertikal untuk bergerak turun dengan aman. Alat turun yang digunakan ialah Figure of 8 karena teknik turun yang diterapkan adalah rapling. Dinamakan demikian karena alat ini memang berbentuk menyerupai angka 8. Sebelum rapling, perlu dipasang terlebih dahulu alat figure of 8 yang menghubungkan tali dengan harness. Kemudian kunci silang pengaman pada figure of 8 dan ikatkan ke kaki sebagai pengaman tambahan. Setelah figure of 8 aman terpasang, Jummar dapat dilepaskan perlahan. Kunci pengaman pada figure of 8 dapat dilepaskan perlahan beserta ikatan pada kaki. Lakukan teknik rapling dengan mengulur tali atau melepas dan memegang tali untuk proses descending yang lebih lancar. Selain Jummaring, dipraktikkan pula materi pemanjatan sport, leading, dan cleaning di jalur lain pada tebing yang sama bagi anggota yang tidak melaksanakan materi Jummaring. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anggota pada pemanjatan tebing serta menambah pengalaman pada tebing yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup sulit.

Pada hari kedua, materi yang dipraktikkan adalah Pemetaan Tebing. Pemetaan dilakukan dengan melakukan pengukuran panjang jalur, pencatatan jenis pegangan pada tebing, pencatatan waktu, serta sketsa muka tebing. Pemanjat (leader) memiliki tugas yaitu untuk mendeskripsikan pegangan atau grip apa saja yang terdapat pada jalur tebing. Jenis-jenis pegangan/grip yang terdapat pada tebing seperti pinch, open, side grip, crimp, dan lain sebagainya. Setiap jenis pegangan yang dipegang dan aktivitas yang dilakukan oleh pemanjat (leader) akan dicatat beserta waktunya oleh pencatat yang berada dibawah. Selain itu, juga ada peran ilustrator yang berperan untuk menggambar dan mensketsa muka atau morfologi jalur tebing yang digunakan serta menggambarkan setiap kejadian yang dideskripsikan oleh pemanjat. Hasil deskripsi oleh leader dapat digambarkan pada sketsa menggunakan simbol-simbol yang mewakili setiap jenis pegangan atau grip. Untuk mengukur jarak pada tiap pengaman dapat dilakukan dengan menandai tali menggunakan lakban dari ujung tali yang ada di figure of 8 pada belayer. Hal tersebut dilakukan hingga pemanjat (leader) mencapai anchor terakhir. Setelah itu, dilakukan pengukuran jalur dengan mengukur panjang tali yang telah ditandai dengan menggunakan lakban tersebut. Dari rangkaian pengukuran dan pencatatan tadi, kemudian dilakukan olah data untuk menghasilkan Peta Jalur Pemanjatan yang layak digunakan.

Kegiatan DIKJUT 2 Panjat Tebing ini memberikan kesan tersendiri bagi setiap anggota yang ikut serta. Kegiatan yang memacu adrenalin ini, tentu memberikan pengalaman dan sensasi yang berbeda dari kegiatan lainnya. Ditambah pula dengan kondisi cuaca di Dieng yang sering berkabut, hujan, dan suhu yang selalu dingin, semakin memberikan memori yang menarik untuk diceritakan. Tak lupa dengan kilauan cahaya mentari pagi yang menjadi pembakar semangat kami dalam setiap kegiatan. Begitu pula dengan pemandangan indah nan menakjubkan yang ditawarkan oleh Dieng selalu menjadi penghibur dan reward yang sejenak membuat lupa akan letih yang dirasakan. Sungguh agung dan mengagumkan ciptaan Tuhan.

Penulis : Muhammad Adrian Majid

About the author

gegama

Add Comment

Click here to post a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.