Menembus Sempitnya Gua Anjani, Membebaskan Jiwa Eksplorasi Kami
Sabtu, 14 September 2025, Mapala GEGAMA melaksanakan kegiatan insidental latihan dasar (latsar) divisi penelusuran gua. Latsar merupakan kegiatan yang wajib diikuti bagi seluruh anggota GEGAMA. Insidental latsar merupakan kegiatan yang wajib diikuti bagi para wiramuda yang belum sempat melaksanakan kegiatan latsar. Kegiatan ini dilaksanakan di Gua Anjani yang berada di Dusun Somoroto, Tlogoguwo, Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah. Kegiatan ini diikuti oleh 4 orang anggota Wiramuda Diklatsar XLII, diantaranya Nabila (Serai), Abbas (Gasan), Danar (Arau), dan Rafli (Arau). Selain itu, kegiatan ini juga didampingi oleh pengurus, pasca, dan anggota Wiramuda Diklatsar XLII yang lain. Pengurus, pasca, dan anggota Wiramuda XLII yang ikut serta kegiatan ini, antara lain, Ami (Anai), Ikhsan (Mapi), Fadhil (Digul), Naufal (Tulup), Sintya (Sikep), Larasati (Tuntut), Humai (Pleci), dan Nicky (Gemak).

Gua Anjani merupakan gua horizontal yang berarti memiliki bentuk memanjang secara mendatar. Bentuk gua horizontal ini menjadi tujuan latsar insidental karena tidak memerlukan SRT sehingga memudahkan peserta untuk masuk ke dalam gua. Selain itu, di Gua Anjani ini terdapat bermacam- macam ornamen gua, seperti stalagmit, stalaktit, column, gordyn, dll. Pada dinding-dinding gua ini juga terlihat adanya fosil hewan laut, seperti kerang, dan terdapat juga lukisan vandalisme para pengunjung gua sebelumnya. Di dalam gua ini terdapat beberapa hewan yang ditemui, yaitu kelelawar, katak, laba-laba, dan jangkrik dengan kaki yang besar dibandingkan dengan jangkrik luar gua. Selain itu, terdapat juga sungai bawah tanah yang menjadi tempat hidup hewan air, seperti ikan, kerang, dan udang.
Materi utama dari kegiatan insidental latsar penelusuran gua ini adalah pemetaan gua. Berdasarkan tekniknya pemetaan gua dibagi menjadi 2, yaitu top to bottom dan bottom to top. Teknik yang digunakan para peserta adalah teknik top to bottom, artinya memetakan dari mulut gua ke dalam gua. Pemetaan ini melibatkan 4 orang peserta dengan tugas yang berbeda-beda. Pada pemetaan ini terdapat orang yang bertugas sebagai shooter, stationer, distoman, descriptor dan sketcher yang ditugaskan pada peserta secara berganti-gantian. Shooter bertugas untuk membidik stationer dan sisi kanan kiri pada dinding gua. Stationer bertugas untuk menandai stasiun dan memberikan back azimuth pada shooter. Distoman bertugas melakukan pengukuran jarak dengan menggunakan distometer. Descriptor bertugas mencatat hasil pengukuran dan sketcher bertugas untuk memvisualisasikan tampak atas, tampak samping, dan tampak depan gua. Distoman pada kesempatan kali ini tugasnya digabung dengan shooter, praktis dengan menggunakan distometer.

Penelusuran Gua Anjani penuh dengan tantangan. Risiko penelusuran gua yang dapat terjadi adalah terbentur dan terpeleset sehingga diharuskan untuk mengenakan alat, seperti helm, penerangan, lifeline, dan sepatu boots. Teknik pergerakan yang dilakukan adalah dengan berjalan tegak, berjalan membungkuk, dan berjalan jongkok. Selain itu, jalur yang dilalui tidak selalu lebar dan lurus, tetapi tidak jarang ditemukan jalan yang curam, jalan yang sempit dan disamping kanannya merupakan dinding dan samping kirinya merupakan sungai dengan elevasi yang lebih rendah.

Peserta sangat berantusias untuk menelusuri gua lebih dalam, namun saat semakin dalam, tercium bau sangat menyengat yang diduga berasal dari sisa pembuangan makhluk hidup gua, terutama kelelawar. Berhenti dan putar balik, penelusuran dilanjut mengikuti rute sungai bawah tanah yang sempit. Tampak selang dan paralon memanjang memasuki sungai bawah tanah tersebut. Sempitnya sungai, dalamnya air, kuatnya jeratan lumpur, hal itu tidak menghalangi teman-teman GEGAMA untuk terus mengeksplor indahnya Gua Anjani ini. Setelah penelusuran, peserta Insidental melakukan olah data di Fakultas Geografi, menghasilkan data yang lebih akurat serta pemetaan yang lebih detail.
Penulis: Sulthoni Abbas
Editor: Tasya Cahya Ananda