Simulasi Nyata: Aksi Penyelamatan di Kaki Gunung Ungaran

Simulasi Nyata: Aksi Penyelamatan di Kaki Gunung Ungaran

 

Kegiatan di gunung atau hutan bukan hanya sekedar berpetualang saja, akan tetapi juga perjalanan yang penuh dengan risiko. Dalam kondisi tertentu kecelakaan seperti tersesat, jatuh, cedera, atau bencana alam kecil dapat terjadi kapan saja. Sehingga, pada kegiatan Pendidikan Lanjut (DIKJUT) 2 Divisi Gunung Hutan diberikan materi SAR (Search and Rescue) dan ESAR (Explore Search and Rescue), dikenal dengan teknik yang digunakan untuk evakuasi “survivor” atau korban yang dicari saat hilang dan tersesat di hutan atau gunung.

Komunikasi dengan Tim Basecamp menggunakan HT

Kegiatan DIKJUT 2 Divisi Gunung Hutan telah dilaksanakan selama 2 hari, yaitu pada tanggal 12-13 Juli 2025 di kaki Gunung Ungaran, Medini, Gempol, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Kegiatan ini diikuti oleh 12 peserta, yang terdiri dari 5 orang Anggota Biasa yang Aktif GEGAMA dan 7 orang Anggota wiramuda GEGAMA. Peserta yang mengikuti kegiatan ini dibagi menjadi tiga tim, yaitu tim BC (Basecamp), tim korban, dan tim SRU. Tim BC terdiri dari Ainna (Punai) dan Allyssa (Sepah) yang akan membantu mengarahkan pergerakan dari tim SRU untuk mencari lokasi korban. Tim BC dan tim SRU akan melakukan komunikasi dua arah dengan menggunakan HT (Handy Talkie).

Pemberian marker saat menemukan barang yang tercecer

Tim SRU terdiri dari Salwa (Sula), Bayu (Poso), Danar (Arau), Leyna (Rokan), Melati (Kandis) dan diawasi oleh  Anggota Biasa yang Aktif GEGAMA, yaitu Aufa (Kacer) dan Tasya (Timor). Sebelum dilakukan operasi, dilaporkan bahwa terdapat dua orang Siswa Pencinta Alam (SISPALA) bernama Ardra (Banggai) dan Nara (Tutu) yang sedang berlibur ke pemandian air panas dan dinyatakan hilang pada Sabtu, 12 Juli 2025 pada pukul 13.20 WIB. Setelah dilaporkannya dua orang survivor, tim SRU memulai pergerakan dengan metode detection, yaitu metode pergerakan yang mempertimbangkan untuk menemukan barang-barang tercecer milik survivor. Lokasi ditemukannya barang-barang milik survivor akan diberi marker atau tanda. 

Pergerakan tim SRU sepenuhnya diarahkan oleh tim BC yang kemudian akan dioleh secara manual menggunakan peta dan protaktor yang dibawa oleh masing-masing anggota tim SRU. pergerakan dimulai dengan arah 266sejauh 68 meter dengan metode detection tipe III search (close grid). Dikarenakan area yang luas dan vegetasi yang minim sehingga memungkinkan untuk arah pergerakan selanjutnya menggunakan metode open grid 326 sejauh 96 meter. Penyisiran area terus dilakukan dengan menaiki bukit dengan medan yang terjal dan curam, namun survivor tidak ditemukan oleh tim SRU pada hari pertama. Hari sudah semakin gelap tim SRU memutuskan untuk menghentikan pergerakan pada pukul 17.00 dan memulai membangun flysheet dan akan melanjutkan operasi pencarian pada keesokan harinya.

Operasi pencarian dimulai kembali pada tanggal 13 Juli 2025 pada puku 6.55 WIB. pencarian dimulai dengan metode close grid 124 sejauh 423 meter. Selama penyisiran ditemukan barang-barang tercecer yang kemungkinan adalah milik survivor. Pencarian terus berlanjut dengan medan yang bervariasi mulai dari landai hingga cukup sulit, menurun, dan vegetasi yang rapat. Pada akhirnya survivor ditemukan kurang lebih pukul 11.25 WIB dalam kondisi kelelahan. Tim SRU pun mengecek kondisi dan mengobatinya. Selepas penanganan, pada pukul kurang lebih 11.50 WIB, tim SRU membawa korban pulang menuju BC.  

Pengetahuan tentang SAR dan ESAR bukan hanya sekadar pelatihan, melainkan bekal untuk menyelamatkan nyawa-nyawa diri sendiri, teman, atau siapa pun yang membutuhkan pertolongan di medan berat. Dengan mempelajari dasar-dasar dari metode SAR dan ESAR diharapkan dapat menjadi modal untuk menjaga keselamatan diri atau pada saat kondisi gawat darurat, serta penting agar tim pencari dan korban dapat selamat.

 

Penulis: Leyna Niswati Khulka

Editor: Tasya Cahya Ananda

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*